PAPER
“TRAUMA
THORAX”
OLEH:
DORYANTI
RAJAGUKGUK
NPM
; 12.11.021
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
PROGRAM
STUDI ILMU KEPERAWATAN (PSIK)
MEDISTRA
LUBUK PAKAM
TA
2015/2016
TUJUAN PEMBELAJARAN
Pembelajaran
Umum
Untuk mengetahui dan
mengenal tentang Trauma Thorax
Tujuan
Pembelajaran Khusus
Setelah mempelajari
materi ini mahasiswa mampu :
1.
Mengerti tentang konsep dasar trauma thorax
2.
Dapat menyebutkan dan menjelaskan
anatomi rongga thorax
3.
Menjelaskan klasifikasi trauma thorax
4.
Menjelaskan asuhan keperawatan pada
trauma thorax
PENDAHULUAN
Trauma
merupakan masalah kesehatan yang utama di seluruh dunia terutama di negara maju
dan negara berkembang. Di Indonesia, trauma merupakan penyebab kematian nomor
empat pada kelompok umur 15-25 tahun.Trauma thorax kebanyakan disebabkan
kecelakaan lalu lintas.
Di
dalam rongga thoraks terdapat dua organ yang sangat vital bagi manusia yaitu
paru-paru dan jantung. Jika terjadi benturan atau trauma pada thorax , kedua
organ vital tersebut dapat mengalami gangguan bahkan kerusakan.. banyak
penyebab terjadinya trauma thorax, diantaranya kecelakaan, tertimpa benda
berat, prosedur invasif dari tenaga medis untuk terapi tertentu, luka tusuk,
luka tembak dan sebagainya.
URAIAN MATERI
A. Defenisi Trauma Thorax
Trauma adalah cedera fisik dan
psikis, kekerasan yang mengakibatkan cedera. Sedangkan trauma thorax adalah
suatu keadaan dimana terjadi benturan baik tumpul maupun tajam pada dada atau
dinding thorax yang menyebabkan kelainan bentuk pada rongga thorak, sehingga
dapat mengakibatkan gangguan fungsi pada organ bagian dada yaitu jantung dan
paru-paru, sehingga terjadi kondidi patologis traumatik antara lain ; hemothorax,
pneumothorax, tamponade jantung dan sebagainya.
B.
Anatomi
Rongga Thorax
Rongga thorax tersusun atas tulang
dan tulang rawan thorax berupa sebuah rongga berbentuk kerucut, di bawah lebih
lebar daripada di atas dan di belakang lebih panjang daripada di depan.
Batas-batas yang membentuk rongga
di dalam thorax :
Sternum
dan tulang rawan kosta di depan,
Keduabelas
ruas tulang punggung beserta cakram antarruas ( disscuss intervertebralis ) yang terbuat dari tulang rawan,
Kosta
beserta otot intercostal di sampingnya,
Diafragma
di bawah, dan
Dasar
leher di atas.
Isi :
Sebelah
kanan dan kiri rongga dada terisi penuh
oleh paru-paru serta pleura dan membentuk batas lateral pada mediastinum.
Mediastinum
adalah ruang di dalam rongga dada antara kedua paru-paru. Isinya jantung dan
pembuluh darah besar, usofagus, duktus torasika, aorta desndens, vena kava superior, saraf
vagus dan frenikus, dan sejumlah besar kelenjar limfe.
C.
Etiologi
Trauma Thorax
1.
Trauma tumpul
a. kecelakaan atau tertimpa beban
berat
b. pukulan pada dada atau tekanan
pada dada
2.
Trauma tajam (tembus)
a. luka tembak
b. luka tikam/ tusuk/ prosedur
invasif
3.
Tindakan medis
D.
Klasifikasi
Trauma Thorax
a.
Flail Chest
Flail
chest terjadi jika dua kosta berdekatan atau lebih mengalami fraktur pada dua
tempat atau lebih. Bila fraktur terjadi pada dua sisi maka stabilitas dinding
dada lebih besar dan kurang mengancam ventilasi daripada bila terjadi pada satu
sisi. Bila segmen rangka thorax mengambang bebas, maka ia akan terdorong ke
dalam oleh tekanan atmosfir biasa yang mengurangi kemampuan paru untuk
berekspansi pada saat inspirasi. Pada ekspirasi, tekanan paru yang meningkat
akan mendorong udara keluar dari paru tetapi segmen ini yang telah kehilangan
integritasnya akan menonjol ke luar sehingga kesanggupan sangkar thorax akan mendorong udara keluar dari paru
akan berkurang. Gerakan segmen “flail” keluar-masuk (yang disebut juga
respirasi paradoksal), mencegah ventilasi yang adekuat. Segmen sangkar dada
yang dapat bergerak ini harus distabilisasikan, agar gerakan paradoksal
dihilangkan.
b.
Pneumothorax
Udara dapat masuk ke dalam rongga
pleura bila ada laserasi atau robekan pada paru, bronkus atau trakea atau bila
adanya luka tembus yang menghubungkan rongga pleura ke dunia luar. Akumulasi
udara akan mengurangi udara yang diperoleh pada tiap gerakan respirasi.
Akumulasi udara lebih lanjut akan mengurangi ekspansi paru.
Pneumothorax spontan
dapat terjadi tanpa trauma eksternal dimana adanya keadaan patologis yang
memungkinkan alveolus atau bronkus trakeal berhubungan dengan rongga pleura.
Pneumothorax traumatik
dapat langsung akibat luka tusuk atau secara tak langsung oleh trauma tumpul.
Tension pneumothorax
terjadi bila udara masuk ke rongga pleura tetapi tidak dapat kembali ke
alveolus tempat asalnya maupun ke dunia luar
c.
Hemothorax
Hemothorax tersering bila ujung kosta
patah melukai arteri interthoraxl yang menyertai pada trauma tumpul walaupun
penetrasikosta ke dalam jaringan paru atau pembuluh besar paru, dapat juga
menyebabkan akumulasi darah. Diagnosis hemothorax diperkirakan bila ada
pengurangan bunyi pernapasan dan pengurangan bunyi perkusi timpani di atas
segmen bawah satu atau dua paru.
d.
Fraktur tulang kosta
Pada
kasus fraktur kosta jarang terjadi pada anak-anak karena kostanya masih elastis, pada orang
dewasa dapat terjadi. Dan patahnya terjadi pada sudut kosta Biasanya diajarkan latihan bernapas. Pasien dianjurkan banyak bergerakdan
kostanya akan sembuh. Rasa mengganggu hanya selama kira-kira seminggu. Jika
dada terhimpit hebat, maka tulang kosta akan terdorong ke dalam dan menyebabkan
luka pada organ di bawahnya, baik di dalam rongga thorax maupun rongga perut.
Dalam hal ini pengikatan dengan plester (strapping)
yang kuat akan membatasi gerakan dari kosta yang patah.
Fraktur tekanan dapat terjadi pada
orang yang lemah diakibatkan oleh hiperaktifnya otot interthoraxl, bisa terjadi
pada saat batuk.
Pemijatan jantung dari luar, jika
tidak dilakukan oleh orang yang sudah ahli, dapat membuat dislokasi tulang kosta
bahkan kosta dapat patah.
e.
Tamponade jantung
Tamponade jantung biasanya akibat
luka tembus jantung. Darah memenuhi kantong perikardium terutama pengisian
diastolik jantung. Kontraksi miokardium sistolik jarang terbatas, tetapi
terdapat penurunan curah jantung sebagai akibat dari kegagalan pengisian
jantung yang adekuat. Pada trauma akut, sekecil 150 sampai 250 ml darah dapat
menimbulkan tamponade, berbeda dengan penderita efusi perikardium kronik,
tempat tamponade memerlukan sebanyak satu liter cairan. Syok ditandai secara
klinis oleh kulit yang basah dan dingin, bunyi jantung terdengar jauh dan
denyut nadi yang cepat. Vena jugularis dan vena-vena wajah terdistensi serta
terdapat sianosis. Bisa timbul penurunan haluaran urin.
E.
Patofisiologi
Trauma
benda tumpul pada bagian thorax , biasanya menyebabkan memar atau jejas trauma
pada bagian yang terkena. Jika mengenai sternum, trauma tumpul dapat
menyebabkan kontusio paru maupun kontusio pada otot jantung. Keadaan ini
ditandai dengan adanya perubahan tamponade pada jantung atau tampak kesukaran
bernapas.
Trauma
benda tajam pada bagian thorax sering berdampak lebih buruk dibanding dengan
yang diakibatkan trauma benda tumpul, karena vbenda tajam langsung dapat
menusuk atau menembus dada dengan merobek pembuluh darah intercostal dan
menembus organ yang berada di posisi penusukan.Kondisi ini dapat menyebabkan
hemothoraks.
F.
Manifestasi
Klinis
a.
Tak ada bunyi pernapasan (pengurangan bunyi perkusi timpani)
b.
Deviasi trakea yang menjauhi sisi paru tanpa bunyi pernapasan
c.
Sianosis
d.
Distensi vena jugularis
e.
Kemungkinan terjadinya emfisema subkutis
f.
Nyeri dada
g.
Denyut nadi cepat
h.
Penurunan haluaran urin
i.
Kelainan EKG
G.
Pemeriksaan
Penunjang
a.
Radiologi : Photo thorax
b.
Laboratorium : Analisa AGDa
c.
Pemeriksaan EKG
H.
Penatalaksanaan
a.
Pemasangan WSD
b.
Aspirasi
c.
Intubasi atau pemasangan endotrakeal tube
d.
Pemberian oksigen
e.
Strapping
RANGKUMAN
Trauma
thorax adalah suatu keadaan dimana terjadi benturan baik tumpul maupun tajam
pada dada atau dinding thorax yang menyebabkan kelainan bentuk pada rongga
thorak, sehingga dapat mengakibatkan gangguan fungsi pada organ bagian dada
yaitu jantung dan paru-paru, sehingga terjadi kondidi patologis traumatik
antara lain ; hemothorax, pneumothorax, tamponade jantung dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Boswick,
John. (2012). Perawatan Gawat Darurat.
Penerbit Buku Kedokteran ECG, Jakarta.
Pearce,
Evelyn. (2010). Anatomi dan Fisiologi
untuk Paramedis. Penerbit Gramedia Utama, Jakarta.
Wilkinson,
J.M. & Ahern, N.R. (2009). Buku Saku
Diagnosis Keperawatan (Ed. 9). Penerbit
Buku Kedokteran ECG, Jakarta.
Musliha.
(2011).. Keperawatan Gawat Darurat.
Penerbit Nuha Medika, Yogyakarta.